
Guru
November 26, 2007Hari ini, 26 November, hari guru nasional. Katanya begitu. Hmmm, ada rasa kemangkelan saya dengan yang satu ini. Jangan cepat menuduh saya populis dengan kondisi kehidupan guru ya…, justru sebaliknya saya jengkel dengan prilaku pemerintah – dan juga pers kita – dalam menempatkan profesi guru di tengah masyarakat.
Yang saat ini terjadi, pemerintah dan pers sering menempatkan guru sebagai profesi marginal yang diganjar (finansial) tak sesuai dengan predikatnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Akibatnya, sejak 1 dasawarsa terakhir, pemerintah rajin memberikan insentif untuk guru (khususnya guru PNS) baik itu berupa kenaikan gaji, atau tunjangan khusus.
Apa iya memang butuh pengakuan dan perlakuan seperti itu untuk profesi guru? Di mata saya, semua profesi punya andil membangun peradabannya ini dengan perannya sendiri-sendiri. Pak itu Pak Guru, Pak Tani, Bu Saudagar, Bu Dokter, Pak Kuli, Pak Penyair, Bu Becak (eh..jarang ya?), dan pak-bu lainnya. Tidak ada profesi dengan derajat lebih tinggi di atas profesi lain.
Lalu kenapa harus mengistimewakan guru dibanding profesi lain? Karena mendidik anak-anak kita kah? Bukankah itu sudah job-nya! Karena upah guru yang relatif terseokkah? Bukankah bukan cuma guru yang pendapatannya terbatas, beratus profesi lain juga begitu. Pak Tani layak dikasih rewards lho. Pak Sopir juga. Kenapa cuma guru?
Jangan salah lho, saya setuju dengan upaya menaikkan taraf hidup guru. Yang saya tidak setuju adalah, kenapa upaya itu terkesan atas dasar jenis pekerjaannya yang konon mencetak anak menjadi ‘orang.’ Logika yang menurut saya naif dan salah kaprah. Lagian, yang dicetak kan gak cuma ‘orang,’ koruptor dan penjahat juga banyak yang makan sekolahan.
Selamat hari Guru. Buatlah diri terhormat karena dedikasimu, bukan jenis pekerjaanmu!
Foto; pinjam janbrett.com