h1

Nggedabrus

Februari 2, 2008

Eiffel
happy (2/2/2008 9:35:32 PM): malem minggon ning ndi kang?
happy (2/2/2008 9:35:35 PM): aku ning bantul
happy (2/2/2008 9:35:49 PM): eh, mbantul ding
Hiraga Keaton (2/2/2008 9:37:01 PM): lha…iki lagi nge-wine neng Champs d’Elysees…sisan nonton eiffel
happy (2/2/2008 9:37:18 PM): wah tob
happy (2/2/2008 9:37:42 PM): hehe
Hiraga Keaton (2/2/2008 9:37:45 PM): kowe jek …kopi tubruk-an neng bantul?
happy (2/2/2008 9:37:57 PM): iyo
happy (2/2/2008 9:38:04 PM): karo nubruk su**
happy (2/2/2008 9:38:09 PM): eh su** tubruk
Hiraga Keaton (2/2/2008 9:38:14 PM): sisan truk wae
happy (2/2/2008 9:39:17 PM): ning daerahmu ono sing dikontrakne ra kang?
Hiraga Keaton (2/2/2008 9:40:14 PM): wah…kudu takon ciputra sik….
Hiraga Keaton (2/2/2008 9:40:29 PM): PI kan jek deknen sing nduwe
happy (2/2/2008 9:40:38 PM): asem
Hiraga Keaton (2/2/2008 9:44:58 PM): wis ah…aku ditunggoni monica bellucci neng kamar

 foto; pinjem atkielski.com

h1

Aurora

Desember 10, 2007

aurora1.jpg

Sudah bertahun-tahun saya memikirkan Aurora. Ini bukan gadis cantik nan seksi, tapi sebuah fenomena alam yang luar biasa, dimana langit nampak gemerlap oleh spektrum cahaya. Indah nian.

Terminologi dari Wikipedia mungkin lebih cerdas menuliskan soal Aurora daripada saya. Kata si Wiki, Aurora itu fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer sebuah planet akibat adanya interaksi antara medan magnet planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari.

Masalahnya, Aurora hanya bisa disaksikan di wilayah dekat-dekat kutub. Yang di Utara dinamakan Aurora Borealis, sedangkan yang hinggap di langit Kutub Selatan dinamakan Aurora Australis. Sumpah mati, melihat aurora secara langsung adalah salah satu ‘big illusion’ saya.

Pertanyaannya jauhnya itu lho gak nguati. Eh bukan jauhnya ding, lebih tepatnya ongkosnya..hihi…Kapan ya saya bisa sampe ke Alaska. Tentu menyenangkan duduk di hamparan salju dingin bersama anak dan istri sembari memandang langit penuh warna. God, I hope someday….

Foto: Pinjem Wikipedia ye…

h1

Penjahat

November 26, 2007

Penjara
Berita itu mengernyitkan dahi. Kompas menulis, penjara-penjara di Indonesia kelebihan muatan. Kapling yang tersedia cuma 80.000, eh yang sukses masuk menempati sel-sel itu hingga kini sampai 140.000 orang. Ini manusia hidup semua lho. Kalo membandingkan ini, rasanya ikan-ikan dalam kaleng sarden masih lebih beruntung.

Penjara dihadirkan pemerintah karena kebutuhan untuk mengisolasi sekaligus memberi hukuman para pelaku tindak pidana. Artinya, ada kebutuhan untuk mengurung penjahat. Kembali ke soal kapasitas penjara, dengan kondisi yang membludak seperti itu jadi menimbulkan pertanyaan, berapa sih jumlah ‘kebutuhan’ penjahat di Indonesia?

Saya coba mengosek-ngosek data soal ini. Gampangnya, berkaca aja ke barometer dunia, Amrik. Disana, sampai dengan tahun 2005, ‘targetnya adalah memproduksi’ 256 penjahat per 100.000 kepala. Ini data maksimum rasio kapasitas penjara dengan jumlah penduduk lho. Hasilnya, 94% kamar-kamar sel tersebut terisi. Penjahat yang diproduksi ternyata lebih tipis sedikit dari target.

Bagaimana dengan Indonesia? Produksi penjahatnya aja sudah overload. Simpelnya dari 230 juta WNI, dibagi dengan kapasitas prodeo yang ada, 80.000. Hasilnya, 2875 penjahat. Bayangkan, dengan jumlah penduduk yang lebih rendah dari penduduk Uncle Sam, ternyata kita memproduksi penjahat lebih tinggi 10 kali lipat dari Amrik.

Oalah negeriku….

Foto; Pinjem dupontbooks.com 

h1

Guru

November 26, 2007

Hari ini, 26 November, hari guru nasional. Katanya begitu. Hmmm, ada rasa kemangkelan saya dengan yang satu ini. Jangan cepat menuduh saya populis dengan kondisi kehidupan guru ya…, justru sebaliknya saya jengkel dengan prilaku pemerintah – dan juga pers kita – dalam menempatkan profesi guru di tengah masyarakat.

Guru

Yang saat ini terjadi, pemerintah dan pers sering menempatkan guru sebagai profesi marginal yang diganjar (finansial) tak sesuai dengan predikatnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Akibatnya, sejak 1 dasawarsa terakhir, pemerintah rajin memberikan insentif untuk guru (khususnya guru PNS) baik itu berupa kenaikan gaji, atau tunjangan khusus.

Apa iya memang butuh pengakuan dan perlakuan seperti itu untuk profesi guru? Di mata saya, semua profesi punya andil membangun peradabannya ini dengan perannya sendiri-sendiri. Pak itu Pak Guru, Pak Tani, Bu Saudagar, Bu Dokter, Pak Kuli, Pak Penyair, Bu Becak (eh..jarang ya?), dan pak-bu lainnya. Tidak ada profesi dengan derajat lebih tinggi di atas profesi lain.

Lalu kenapa harus mengistimewakan guru dibanding profesi lain? Karena mendidik anak-anak kita kah? Bukankah itu sudah job-nya! Karena upah guru yang relatif terseokkah? Bukankah bukan cuma guru yang pendapatannya terbatas, beratus profesi lain juga begitu. Pak Tani layak dikasih rewards lho. Pak Sopir juga. Kenapa cuma guru?

Jangan salah lho, saya setuju dengan upaya menaikkan taraf hidup guru. Yang saya tidak setuju adalah, kenapa upaya itu terkesan atas dasar jenis pekerjaannya yang konon mencetak anak menjadi ‘orang.’ Logika yang menurut saya naif dan salah kaprah. Lagian, yang dicetak kan gak cuma ‘orang,’ koruptor dan penjahat juga banyak yang makan sekolahan.

Selamat hari Guru. Buatlah diri terhormat karena dedikasimu, bukan jenis pekerjaanmu!

Foto; pinjam janbrett.com

h1

Rod Stewart

November 23, 2007

Rod Stewart

Tadi pagi, sewaktu menyusuri jalanan Parung-Serpong, radio saya menangkap suara Rod Stewart. Sampeyan pasti tahu siapa si Rod (Tak apalah sok akrab manggil nama depan) ini. Penyanyi jadul dengan rambut landak dengan tangkai-tangkai yang memutih.

Rod ini jagoan lho. Reputasinya gak lekang dimakan umur. Usianya 61 tahun dan karir musiknya sudah merentang lebih dari 40 tahun, tapi tetep aja ngetop. Setelah gak punya lagu-lagu original (macam Sailing, I Don’t Wanna Talk…), ia sambung nama besarnya dengan lagu-lagu re-make, yang celakanya…..asyik punya.

Nah, dari sini saya menilai Rod tahu penyanyi yang spesial. Nggak tahu, koq saya merasa cuma dia penyanyi yang selalu memuaskan jika menyanyikan lagu-lagu re-make. Waltzing Mathilda yang dulu disuarakan Tom Jones, oke dibawain sama si Rod begitu juga I’ll Stand by You-nya Pretenders. Heartache-nya Bonnie Taylor malah lebih asyik kalo Rod yang nyanyi.

Oh it’s a heartache

Nothing but a heartache.
Love him till your arms break

Then he let’s you down
It’s a fool’s game

Standing in the cold rain

Feeling like a clown.

Foto; pinjem hotrodlive.com

h1

Nasionalisme

November 22, 2007

nationalism.gif

Polemik anggota DPR, Yuddy Chrisnandi dengan peneliti CSIS, Indra J Piliang di TEMPO, sungguh menarik buat dilirik. Mereka beradu kepala soal nasionalisme, isu usang yang selalu saja muncul saban taon. Yuddy, yang politisi muda ceria dan konon ‘bermasa depan cerah’ ternyata bersikap ala kaum tua, sementara Indra, biasalah pengamat berdalil dalam perspektif yang lebih progresif.

Intinya, Yuddy menyalahkan kaum muda yang terninabobokan dengan kultur masa kini yang mencetak mereka menjadi generasi hedonis. Sedang Indra, berapologi bahwa sikap antinasionalisme yang menjangkit anak muda cuma ekses dari polah tingkah senior mereka di kekuasaan yang ternyata hipokrit. Gimana mau ngomong nasionalisme, kalo di bawah meja (eh sekarang sudah di atas ya?) para pemimpin terang-terang mengangkangi duit korupsi.

Kalo saya? Hehehe….sudah sejak 12 tahun lalu….nasionalisme itu hanya berarti AC Milan….itu thok.

foto; pinjem ama worth1000.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.